أهلا وسهلا

Selamat datang di blog ini, silahkan dibuka-buka, di baca-baca, di share, taupun memberikan coment. dengan catatan selama tidak melanggar Undang-Undang Dunia dan Akherat.
Semoga bermanfaat...

Selasa, 11 Oktober 2011

Apa yang Kau Bayangkan dengan Pernikahan?


Sesuatu yang sangat indah… Dengan menikah surga dunia akan menjadi nyata. Segalanya begitu mempesona. Siang yang penuh canda tawa dan malam yang indah dalam peraduan cinta. Bisa tilawah bersama. Melakukan pengayaan materi tarbiyah berdua. Jika lelah ada yang memijat. Jika lemah ada yang memberi semangat. Tanggal muda belanja berdua. Tanggal tua tetap mesra. Berangkat kerja dicium tangannya. Pulang kerja disambut gembira. Dunia hanya milik berdua.

Kadang-kadang perasaan seperti itulah yang dimiliki oleh kita yang ingin menikah. Imajinasi yang sempurna. Bahwa pernikahan takkan kurang dari 13 kalimat di atas. Benar-benar mempesona tanpa cela. Benar-benar indah tanpa masalah.

Sebenarnya, boleh-boleh saja membayangkan yang demikian. Agar motivasi berkeluarga itu terjaga. Agar menikah tidak terlambat.

Namun, saat yang dibayangkan hanya keindahan, itu akan menjadi harapan yang mengeras dan harus jadi kenyataan. Efek negatifnya, ketika pernikahan yang dilaluinya tidak seindah yang dibayangkan, jiwanya bisa tidak siap menghadapi sehingga lebih sakit terasa atau segera kecewa. Saat ada problematika dalam kehidupan rumah tangga yang sama sekali berbeda dengan bayangan sebelumnya bisa menjadi masalah besar. Meskipun sebenarnya problem itu wajar dalam interaksi suami istri pada umumnya.

Maka ada baiknya jika kita memiliki bayangan-bayangan indah tentang pernikahan, kita juga memahami bahwa ada persoalan-persoalan yang bisa saja terjadi dalam kehidupan berkeluarga.

Pertama, hari-hari pertama pernikahan yang umumnya dipakai bulan madu oleh masyarakat kita, memang adalah momen-momen terindah. Saat itu, meskipun ada salah ucap atau makanan yang kurang sesuai dengan selera akan menjadi tidak terasa. Kalah oleh nikmatnya cinta. Namun seiring berjalannya waktu dan bergantinya hari, semua akan menjadi biasa dan kembali seperti sedia kala. Suami istri juga akan mulai mengetahui karakter masing-masing lebih detail. Di sini kadang kita terkejut, “Ternyata istriku suka ngambek. Sedikit-sedikit ngambek, diam tidak mau bicara. Padahal hanya telat pulang kerja 30 menit karena macet.” Di sini kadang istri kaget, “Ternyata suamiku mudah marah. Sarapan telat marah. Baju kurang rapi marah.”

Jika kita menganggap itu masalah besar karena sebelumnya hanya membayangkan yang indah-indah saja, kita mudah patah dan menyerah. Namun jika kita telah siap, kita akan lebih antisipatif. Pasti ada solusinya. Kalau istri ngambek, suami yang memulai berbicara, mencandai, merayunya dan… seterusnya. Kalau suami kelihatan mau marah, istri yang minta maaf duluan, dipanggil sayang, dan… selanjutnya terserah Anda.

Kedua, sering kali pasangan muda pada tahun-tahun pertama akan diuji dengan keterbatasan ekonomi. Apalagi yang dari awal hanya berbekal motivasi “menikahlah maka engkau akan kaya”. Ikut mertua sungkan. Rumah sendiri belum punya. Akhirnya tinggal di rumah kontrakan. Apalagi sebelumnya adalah mahasiswa murni yang tiao bulan selalu mendapat “bea siswa” dari orang tua. Begitu menikah “bea siswa” berhenti dan pekerjaan belum mapan. Jika hanya membayangkan pernikahan dari indahnya hidup penuh cinta tanpa persiapan menghadapi kondisi seperti ini bisa berbahaya. Namun jika telah memprediksi sebelumnya bahwa kemungkinan ini bisa saja terjadi, mereka berdua tetap yakin pada Allah yang Maha Pemberi Rezeki dan memecahkan masalah berdua penuh cinta. Bukan istri menyalahkan suami karena penghasilannya yang masih “pemula” atau suami yang memaksa istri minta “bea siswa” lagi kepada orang tua.

Ketiga, kehidupan berumah tangga menjadikan kita dihitung sebagai warga masyarakat yang sebenarnya. Jika sebelumnya kita adalah pertapa di menara gading yang tidak pernah diperhatikan masyarakat, begitu berumah tangga kita mau tidak mau akan terlibat dalam banyak aktifitas dan hak-hak bertetangga. Konsekuensinya jelas, ada kontribusi waktu bahkan maliyah kita. Kalau sebelumnya hanya membayangkan nikmatnya menikah bisa terus berduaan, lebih banyak waktu untuk tilawah dan mendiskusikan materi tarbiyah, kita akan kewalahan.

Keempat, semakin lama kita berumah tangga yang dibangun di atas pondasi imajinasi sempurna, potensi futur dalam berumah tangga semakin besar. Tidak mungkin rumah tangga selama bertahun-tahun bebas masalah atau konflik, sekecil apapun. Imbangilah bayangan keindahan dengan kesadaran adanya kemungkinan ini supaya lebih siap dan sigap mengatasinya. Diperlukan upaya mengatasi futur dalam berumah tangga ini.

Kelima, saat Allah mengamanahkan hamba kecilnya kepada kita. Mulai istri mengandung yang seleranya berubah bahkan terkadang aneh, termasuk sikapnya, sampai waktu, tenaga, perhatian dan finansial lebih besar untuk menyambut kelahirannya dan mulai membesarkannya.

Jika kita punya bayangan akan kemungkinan-kemungkinan ini, kita lebih siap dan lebih antisipatif menghadapinya. Sehingga semuanya berlalu hanya bagaikan riak-riak kecil yang menambah asyik laju bahtera kita, tidak sampai menjadi ombak besar yang menenggelamkannya.

Seperti Umar bin Khatab saat ada orang yang mau mengadu kepadanya. Begitu mendapati Umar dimarahi istrinya dan diam saja, orang itu kembali. Tidak jadi mengadu. Saat Umar tahu dan dipanggilnya. Ia pun mengatakan bahwa niatnya curhat dan konsultasi masalah keluarga. Ternyata masalah kelurga Umar lebih besar, anggapannya. Umar lalu mengajarinya sebuah makna: itu adalah bumbu dalam berumah tangga.

Sekarang bagaimana kau membayangkan pernikahanmu dan hari-hari selanjutnya? []

Jumat, 03 Juni 2011

KENANGAN...


Dia masih seperti yang dulu. Tidak megah. Tidak indah. Sederhana. Bersahaja. Bahkan kini nyaris tiang sudut tempat dulu kusandarkan punggungku setelah lelah berjalan mencari calon-calon generasi Sholahudin yang baru sudah lusuh dan kumuh dimakan waktu. Namun di sana banyak menyimpan makna dan kenangan yang tak tehingga.

Di tempat itulah dulu aku menjalani proses untuk mengenal arti kehidupan.
Di tempat itulah dulu aku dapat mengenal arti pengorbanan.

Di tempat itulah dulu aku dapat mengenal dakwah.
Di tempat itulah dulu aku dapat mengenal arti persahabatan yang indah.

Di tempat itulah dulu aku dapat mengenal penciptaku dan diriku.
Di tempat itulah dulu aku dapat menemukan agamaku dan jalan hidupku.
Ditempat itulah dulu aku dapat memegang prinsip-prinsip dan idealisme yang kini menyatu dan mengiringi denyut nadiku.

Duduk disaana di masjid kampus biru UMM Makassar, membawa anganku melayang mengarungi ruang tanpa halang. membentuk angan dan cita-cita yang jauh kedepan.
Kehidupan yang lebih baik, dengan membangun istana dan telaga yang sejuk di dalam SyurgaNya.

Zifan Afif
zifan86@ymail.com
03juni disela-sela ku mengajari anak arti kehidupan

Indahnya Berprasangka Baik

Dua orang laki-laki bersaudara bekerja pada sebuah pabrik kecap dan sama-sama tekun belajar Islam. Sama-sama mengamalkan ilmunya dalam kehidupan sehari-hari semaksimal mungkin. Mereka acap kali harus berjalan kaki untuk sampai ke rumah guru pengakiannya. Jaraknya sekitar 10km dari rumah peninggalan orangtua mereka.

Suatu ketika sang kakak berdo'a memohon rejeki untuk membeli sebuah mobil supaya dapat dipergunakan untuk sarana angkutan dia dan adiknya, bila pergi mengaji. Allah mengabulkannya, tak lama kemudian sebuah mobil dapat dia miliki dikarenakan mendapatkan bonus dari perusahaannya bekerja.

Lalu sang kakak berdo'a memohon seorang istri yang sempurna, Allah mengabulkannya, tak lama kemudian sang kakak bersanding dengan seorang gadis yang cantik serta baik akhlaknya.

Kemudian berturut-turut sang Kakak berdo'a memohon kepada Allah akan sebuah rumah yang nyaman, pekerjaan yang layak, dan lain-lain. Dengan itikad supaya bisa lebih ringan dalam mendekatkan diri kepada Allah. Dan Allah selalu mengabulkan semua do'anya itu.

Sementara itu, sang Adik tidak ada perubahan sama sekali, hidupnya tetap sederhana, tinggal di rumah peninggalan orang tuanya yang dulu dia tempati bersama dengan Kakaknya. Namun karena kakaknya sangat sibuk dengan pekerjaannya
sehingga tidak dapat mengikuti pengajian, maka sang adik sering
kali harus berjalan kaki untuk mengaji kerumah guru mereka.

Suatu saat sang Kakak merenungkan dan membandingkan perjalanan hidupnya dengan perjalanan hidup adiknya. Dia dia teringat bahwa adiknya selalu membaca selembar kertas saat dia berdo'a, menandakan adiknya tidak pernah hafal bacaan
untuk berdo'a. Lalu datanglah ia kepada adiknya untuk menasihati adiknya supaya selalu berdo'a kepada Allah dan berupaya untuk membersihkan hatinya, karena dia merasa adiknya masih berhati kotor sehingga do'a-do'anya tiada dikabulkan oleh Allah azza wa jalla.

Sang adik terenyuh dan merasa sangat bersyukur sekali mempunyai kakak yang begitu menyayanginya, dan dia mengucapkan terima kasih kepada kakaknya atas nasihat itu.

Suatu saat sang adik meninggal dunia, sang kakak merasa sedih karena sampai meninggalnya adiknya itu tidak ada perubahan pada nasibnya sehingga dia merasa yakin kalau adiknya itu meninggal dalam keadaan kotor hatinya sehubungan do'anya tak pernah terkabul.

Sang kakak membereskan rumah peninggalan orang tuanya sesuai dengan amanah adiknya untuk dijadikan sebuah mesjid. Tiba-tiba matanya tertuju pada selembar kertas yang terlipat dalam sajadah yang biasa dipakai oleh adiknya yang berisi tulisan do'a, diantaranya Al-fatehah, Shalawat, do'a untuk guru mereka, do'a
selamat dan ada kalimah di akhir do'anya:

"Ya, Allah. tiada sesuatupun yang luput dari pengetahuan Mu,
Ampunilah aku dan kakak ku, kabulkanlah segala do'a kakak ku,
bersihkanlah hati ku dan berikanlah kemuliaan hidup untuk kakakku
didunia dan akhirat,"

Sang Kakak berlinang air mata dan haru biru memenuhi dadanya, tak dinyana ternyata adiknya tak pernah sekalipun berdo'a untuk memenuhi nafsu duniawinya.

kutipan dari sebuah artikel

Minggu, 22 Mei 2011

AWALNYA DARI NIAT


Awalnya dari niat...
Aku mendengar, kata Umar bin Khaththab r.a., Rasulullah Saw. bersabda,
"Sesungguhnya amal perbuatan itu (dinilai) hanya berdasarkan niatnya (innamal a'malu binniyyati)
Kelak Allah akan menilainya dan memberikan barakah sesuai dengan niatmu. Kalau niatmu menikah karena ingin menjawab pertanyaan Rasulullah tentang apa yang menghalangi seorang mukmin untuk mempersunting istri, insya-Allah engkau akan mendapati anak - anak yang memberi bobot kepada bumi dengan kalimat laa ilaha illaLlah. Jika engkau tidak tahu betul bagaimana mendidik anakmu, Allah yang akan mendidiknya.

Allah yang akan memberikan ilmu melalui kekuasaan-Nya. Banyak cara Allah membaguskan hamba-hamba Nya. Banyak cara Allah menjadikan seorang hamba terangkat tinggi karena niatnya melalui anak-anak yang mereka lahirkan. Padahal mata kita yang penuh teori, semula memandang proses perkembangan anak-anak itu sebagai kesalahan.
Sungguh, sangat sedikit ilmu yang dimiliki manusia.

Awalnya adalah niat….
Maka aku bertanya kepadamu wahai istriku, apakah yang menggerakkan hatimu untuk mempercayakan kesetiaanmu padaku? Aku bertanya kepadamu karena niat akan menentukan apa yang akan engkau dapatkan kelak setelah kita menikah, dan kelak setelah kita tiada. Ketika kita sama-sama menjadi jenazah.

Niatmu akan mempengaruhi bagaimana engkau merasakan arti saat-saat berdekatan, keindahan saat bersama, keadaan hati saat menghadapi masalah, sampai bagaimana engkau merasakan arti darah setetes ketika melahirkan, juga ketika harus bangun saat anakmu terbangun dari tidurnya.

Semua berawal dari niat…
Niat ketika menerima pinangan, niat ketika memasuki jenjang pernikahan, niat ketika menghabiskan saat-saat berdua, niat ketika berhias, niat ketika memuji suami, dan niat ketika akan melakukan berbagai hal. Niat-niat itu bisa menambah barakah dan memperbaiki kesalahan niat sebelumnya, bisa mengurangi barakah dari apa yang sebelumnya telah engkau terima atau engkau berikan kepada suami.

Hmm.. Sekedar untuk mengingakan diri agar selalu kembali kepada niat awal yaitu niat yang tulus semata ingin beribadah kepadaNya, tidak untuk kepada yang lain. '^_^'
~' kutipan dari kitab Kado Pernikahan'~

Rabu, 11 Mei 2011

Kado Tercantik (Sepenggal Cerita Sebelum Saat Itu)


Tak pernah kulihat sebelumnya, kado secantik ini. Entah dari mana datangnya, aku tak peduli, karena yang pasti kado itu akan menjadi milikku. Sungguh aku tak bisa bercerita kepada Anda perasaan yang menderu saat pertama kali ditawari untuk menerima kado tersebut. Seseorang dengan ikhlas sepenuh hati akan menyerahkannya kepadaku, hari ini.

Melihat bungkusnya yang indah berwarna putih dengan motif bunga-bunga kecil merah jambu, tak salah penilaianku, kado itu memang teramat cantik. Yang kutahu, tidak hanya hari ini ianya berbungkus seindah itu, setiap hari, setiap waktu, selalu terbungkus rapih. Isinya? Jangan pernah tanyakan kepadaku, karena aku, juga orang lain tak pernah tahu apa dan bagaimana rupa isinya. Jangankan tersentuh, terlihat pun tak. Terutama oleh orang-orang yang memang terlarang untuk melihatnya. Seistimewa apakah kado itu? Sehingga tak seorangpun pernah melihat kado cantik ini? Dan seistimewa apa diriku ini sehingga seseorang berkenan mempercayakannya kepadaku?

Terbayang dari bungkusnya, yang setiap saat selalu terlihat rapi dan terjaga dengan baik, yang tak tersentuh kecuali oleh yang berhak menyentuhnya, aku yakin, isi dan rupa didalamnya, jauh lebih indah dari cantik bungkusnya. Kumengerti, kalaulah kado itu mampu sedemikian cantiknya terjaga kulit luarnya, bagaimana lagi aku meragukannya tak senantiasa diperindah rupa dalamnya, juga inti terdalam dari semua isinya, yang sejujurnya, adalah hal terpenting dari semua kecantikan sesuatu. Maaf, aku tak bisa mengajak Anda ikut membayangkan indah rupa isinya, dan kalaupun aku tahu Anda mencoba melakukannya, sebaiknya Anda berhadapan denganku. Kado tercantik itu milikku, akan kujaga ia dan takkan kubiarkan orang lain ikut menikmatinya, meskipun sekedar membayangkan.

Ingin sekali kucari pita pembuka kado yang biasanya berwarna merah, agar segera kusingkap isinya. Tapi satu hal mengganjalku, masih tersisa beberapa saat agar aku benar-benar mendapatkan izin untuk membukanya. Bahkan, lebih dari itu... (sensor). Harus kutunggu pemiliknya, yang menjaganya, dan merawatnya selama ini benar-benar menyerahkannya kepadaku dalam satu upacara sakral. Kenapa sedemikian sakral? Sesuatu yang cantik nan suci harus diserahkan dalam koridor keagungan yang juga suci, itu jawabnya. Tak apalah, sebagai satu jalan untuk tetap mensucikan diriku, juga kado cantik itu, wajib kujalani upacara sakral itu.

Aku berjanji, setelah kuterima dalam kharibaanku kado tersebut, akan kujaga, kurawat, kuperlakukan ianya agar tetap menjadi kado tercantik, terindah, terbaik, terbagus, selamanya. Sampai tak ada lagi yang membuatku harus melirik kado-kado diluar yang terkadang hanya bagus dan cantik bungkusnya.

Dan kamu tahu dik, kamulah kado tercantik itu ...

*Kutipan dari artikel Eramuslim
sejenak mengenang masa - masa suasana hati yang sedang menderu - deru.. "^,^"

DETIK DETIK MENJELANG AKHIR LAJANGKU

Hari hari kian merayap pada satu titik, jam berganti, menit menit
saling berkejaran hingga terhitung detik demi detik. Adalah salah satu
karakteristik waktu yang sedemikian cepatnya beranjak, menyisakan
kenangan dan menorehkan beragam takdir kehidupan. Saya tidak
sedang menghitung hari, tetapi saya sedang meresapi waktu yang
bergeser menjelang akhir masa lajang saya. Saya resapi dalam-dalam
untuk memaknai dengan lekat setiap detik yang berpindah ke detik
selanjutnya. Saya tak kuasa menahan lajunya waktu, untuk sebentar
saja memberikan saya kesempatan menikmati sedikit lagi masa lajang
saya.

Bukan bukannya saya tidak bahagia dengan kado sebuah pernikahan
yang Allah anugerahkan pada saya. Ini adalah kado terindah dalam
hidup saya. Saya hanya sedang membuat ‘pesta kecil dalam benak
saya untuk pergantian status ini.

Hmmm Status lajang menjadi seorang istri (ciee..). Menghadirkan
kembali penggalan kisah kehidupan saya sebelum melangkah ke
sebuah gerbang bernama rumah tangga, mengambil sebanyak
banyaknya hikmah dari semua kejadian yang berhasil saya lewati.
Tidak pernah menyangka akhirnya saya bisa melewati masa masa
yang sulit, ujian terhadap kesabaran dan keistiqomahan saya.

Sungguh janji Allah itu sudah pasti kebenarannya. Betapapun perihnya
saat berbagai ujian itu datang silih berganti, semuanya telah terlewati,
dengan izin Allah.

Sekian tahun menjadi lajang, cukupkah mendewasakan saya?
Ternyata tidak, proses pendewasaan itu akan terus berlanjut, apapun
status kita., karena kehidupan hakakekatnya adalah proses
pembelajaran, supaya kita bisa survive menghadapi apapun. Hanya
saja, pengalaman hidup ketika lajang, saya harap bisa dijadikan
sebagai bagian dari proses itu. Saya sadar, kehidupan saat lajang pasti
akan sangat berbeda dengan kehidupan ketika berumah tangga.

Kewajiban dan tanggung jawab akan bertambah, ujian pun akan
sangat berbeda. Dan perahu yang saya kayuh pun kini punya seorang
nahkoda, seorang partner dakwah yang mendampingi hari-hari saya
selanjutnya. Bersama menghadapi badai dan gelombang yang sewaktu
waktu akan menghampiri pelayaran ini. Berjuang bersama meraih
jannah. Ketika saya sudah melewati ujian-ujian ketika lajang, bukan
berarti saya bisa berteriak bebaaaaas, justru dalam sebuah
pernikahanlah medan ujian sesungguhnya bagi kedewasaan saya
dalam menghadapi berbagai masalah.

Menikah bukanlah prestasi, bukan juga saatnya untuk berbangga diri
atau sekedar terjebak dalam romantisme sepasang manusia yang
terbungkus indahnya mitsaqon gholizho. Saya sadar saya sedang
menggerakan kaki saya untuk melangkah di sebuah “dunia lain Dunia
penuh warna yang sebagian warna-warnanya tidak saya jumpai ketika
saya masih lajang. Kini saya sedang berada di depan gerbangnya,
saya kuatkan pijakan kaki saya dan menopang kokoh dagu saya untuk
tidak menoleh ke belakang. Saya hanya ingin menatap lurus ke depan,
biarlah jejak-jejak langkah yang pernah saya toreh di masa lajang
tetap berada di belakang saya. Saya hanya ingin mengambil beberapa
serpihan hikmah untuk saya jadikan bekal dalam memasuki dunia baru
ini.

Detik-detik ini akan segera berlalu, dan detik detik selanjutnya akan
saya temui. Lajang atau menikah bukan ukuran terhadap kualitas diri.
Saya tetap harus terus, terus dan terus memperbaiki diri, karena Allah
tidak pernah melihat seseorang dari status, DIA hanya melihat
ketakwaan kita padaNYA. DIAlah yang akan menyaksikan apakah
pernikahan ini akan membuat saya semakin dekat denganNya atau
justru menjauh dariNya.

Di detik-detik terakhir menjelang akhir lajang ini, saya merasakan
sepenuh cinta yang Allah berikan kepada saya dan kehidupan saya.
Meski sadar ibadah seumur hidup pun tak kan mampu membalasnya,
tapi saya ingin memberikan cinta terbaik yang saya miliki untuk NYA
dan untuk orang-orang yang mencintaiNYA dengan sepenuh hati.
Selamat tinggal dunia lajang, insya Allah saya siap menyambutmu
wahai dunia baru.

*Sebuah kutipan artikel dari
Hanifa Syahida

Senin, 09 Mei 2011

CINTA ( pacaran..) MENURUT ISLAM


بسم الله الرحمن الرحيم
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ



# Bukanlah Disalurkan Lewat Pacaran #



Cinta kepada lain jenis merupakan hal yang fitrah bagi manusia. Karena sebab cintalah, keberlangsungan hidup manusia bisa terjaga. Oleh sebab itu, Allah Ta’ala menjadikan wanita sebagai perhiasan dunia dan kenikmatan bagi penghuni surga. Cinta kepada lain jenis merupakan hal yang fitrah bagi manusia. Karena sebab cintalah, keberlangsungan hidup manusia bisa terjaga. Oleh sebab itu, Allah Ta’ala menjadikan wanita sebagai perhiasan dunia dan kenikmatan bagi penghuni surga. Islam sebagai agama yang sempurna juga telah mengatur bagaimana menyalurkan fitrah cinta tersebut dalam syariatnya yang rahmatan lil ‘alamin. Namun, bagaimanakah jika cinta itu disalurkan melalui cara yang tidak syar`i? Fenomena itulah yang melanda hampir sebagian besar anak muda saat ini. Penyaluran cinta ala mereka biasa disebut dengan pacaran. Berikut adalah beberapa tinjauan syari’at Islam mengenai pacaran.



# Ajaran Islam Melarang Mendekati Zina #


Allah Ta’ala berfirman, :

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.”(QS. Al Isro’ [17] : 32)


Dalam Tafsir Jalalain dikatakan bahwa larangan dalam ayat ini lebih keras daripada perkataan ‘Janganlah melakukannya’. Artinya bahwa jika kita mendekati zina saja tidak boleh, apalagi sampai melakukan zina, jelas-jelas lebih terlarang.


Asy Syaukani dalam Fathul Qodir mengatakan, ”Apabila perantara kepada sesuatu saja dilarang, tentu saja tujuannya juga haram dilihat dari maksud pembicaraan.”


Dilihat dari perkataan Asy Syaukani ini, maka kita dapat simpulkan bahwa setiap jalan (perantara) menuju zina adalah suatu yang terlarang. Ini berarti memandang, berjabat tangan, berduaan dan bentuk perbuatan lain yang dilakukan dengan lawan jenis karena hal itu sebagai perantara kepada zina adalah suatu hal yang terlarang.



# Islam Memerintahkan untuk Menundukkan Pandangan #


Allah memerintahkan kaum muslimin untuk menundukkan pandangan ketika melihat lawan jenis. Allah Ta’ala berfirman, :

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ

“Katakanlah kepada laki – laki yang beriman :”Hendaklah mereka menundukkan pandangannya dan memelihara kemaluannya.” (QS. An Nuur [24] : 30 )


Dalam lanjutan ayat ini, Allah juga berfirman, :

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ

“Katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman : "Hendaklah mereka menundukkan pandangannya, dan kemaluannya” (QS. An Nuur [24] : 31)


Ibnu Katsir ketika menafsirkan ayat pertama di atas mengatakan, ”Ayat ini merupakan perintah Allah Ta’ala kepada hamba-Nya yang beriman untuk menundukkan pandangan mereka dari hal-hal yang haram. Janganlah mereka melihat kecuali pada apa yang dihalalkan bagi mereka untuk dilihat (yaitu pada istri dan mahromnya). Hendaklah mereka juga menundukkan pandangan dari hal-hal yang haram. Jika memang mereka tiba-tiba melihat sesuatu yang haram itu dengan tidak sengaja, maka hendaklah mereka memalingkan pandangannya dengan segera.”


Ketika menafsirkan ayat kedua di atas, Ibnu Katsir juga mengatakan,”Firman Allah (yang artinya) ‘katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman : hendaklah mereka menundukkan pandangan mereka’ yaitu hendaklah mereka menundukkannya dari apa yang Allah haramkan dengan melihat kepada orang lain selain suaminya.


Oleh karena itu, mayoritas ulama berpendapat bahwa tidak boleh seorang wanita melihat laki-laki lain (selain suami atau mahromnya, pen) baik dengan syahwat dan tanpa syahwat. … Sebagian ulama lainnya berpendapat tentang bolehnya melihat laki-laki lain dengan tanpa syahwat.”


Lalu bagaimana jika kita tidak sengaja memandang lawan jenis?


Dari Jarir bin Abdillah, beliau mengatakan, :

سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ نَظَرِ الْفُجَاءَةِ فَأَمَرَنِى أَنْ أَصْرِفَ بَصَرِى.

“Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang pandangan yang cuma selintas (tidak sengaja). Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepadaku agar aku segera memalingkan pandanganku.” (HR. Muslim no. 5770)


Faedah dari menundukkan pandangan, sebagaimana difirmankan Allah dalam surat An Nur ayat 30 (yang artinya) “yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka” yaitu dengan menundukkan pandangan akan lebih membersihkan hati dan lebih menjaga agama orang-orang yang beriman. Inilah yang dikatakan oleh Ibnu Katsir –semoga Allah merahmati beliau- ketika menafsirkan ayat ini. –


Semoga kita dimudahkan oleh Allah untuk menundukkan pandangan sehingga hati dan agama kita selalu terjaga kesuciannya-



# Allah Memerintahkan kepada Wanita untuk Menutup Auratnya #


Allah Ta’ala berfirman :

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu'min: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al Ahzab [33] : 59)


وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.” (QS. An Nuur [24] : 31).


Berdasarkan tafsiran Ibnu Abbas, Ibnu Umar, dan Atho’ bin Abi Robbah bahwa yang boleh ditampakkan adalah wajah dan kedua telapak tangan. (Lihat Jilbab Al Mar’ah Al Muslimah, Amr Abdul Mun’im Salim)



# Agama Islam Melarang Berduaan dengan Lawan Jenis #


Dari Ibnu Abbas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلاَّ مَعَ ذِى مَحْرَمٍ

“Janganlah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita kecuali jika bersama mahromnya.” (HR. Bukhari, no. 5233)


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

أَلاَ لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ لاَ تَحِلُّ لَهُ ، فَإِنَّ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ ، إِلاَّ مَحْرَمٍ

“Janganlah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita yang tidak halal baginya karena sesungguhnya syaithan adalah orang ketiga di antara mereka berdua kecuali apabila bersama mahromnya. (HR. Ahmad no. 15734. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan hadits ini shohih ligoirihi)



# Jabat Tangan dengan Lawan Jenis Termasuk yang Dilarang #


Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu , Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَى مُدْرِكٌ ذَلِكَ لاَ مَحَالَةَ فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ وَالأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الاِسْتِمَاعُ وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلاَمُ وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ

“Setiap anak Adam telah ditakdirkan bagian untuk berzina dan ini suatu yang pasti terjadi, tidak bisa tidak. Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan. Lalu kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian.” (HR. Muslim no. 6925)


An Nawawi –seorang ulama besar Syafi’iyyah- berkata, ”Makna hadits ini adalah bahwa anak Adam telah ditetapkan bagian untuk berzina. Di antaranya ada yang berbentuk zina secara hakiki yaitu memasukkan kemaluan kepada kemaluan yang haram. Di samping itu juga ada zina yang bentuknya simbolis (majas) yaitu dengan melihat sesuatu yang haram, mendengar hal-hal zina dan yang berkaitan dengan hasilnya; atau pula dengan menyentuh wanita ajnabiyah (wanita yang bukan istri dan bukan mahrom) dengan tangannya atau menciumnya; atau juga berjalan dengan kakinya menuju zina, memandang, menyentuh, atau berbicara yang haram dengan wanita ajnabiyah dan berbagai contoh yang semisal ini; bisa juga dengan membayangkan dalam hati. Semua ini merupakan macam zina yang simbolis (majas). Lalu kemaluan nanti yang akan membenarkan perbuatan-perbuatan tadi atau mengingkarinya. Hal ini berarti ada zina yang bentuknya hakiki yaitu zina dengan kemaluan dan ada pula yang tidak hakiki dengan tidak memasukkan kemaluan pada kemaluan, atau yang mendekati hal ini.

Wallahu a’lam” (Syarh An Nawawi ‘ala Muslim)


Jika kita melihat pada hadits di atas, menyentuh lawan jenis -yang bukan istri atau mahrom- diistilahkan dengan berzina. Hal ini berarti menyentuh lawan jenis adalah perbuatan yang haram karena berdasarkan kaedah ushul “apabila sesuatu dinamakan dengan sesuatu lain yang haram, maka menunjukkan bahwa perbuatan tersebut adalah haram”.

(Lihat Taysir Ilmi Ushul Fiqh, Abdullah bin Yusuf Al Juda’i)



=Meninjau Fenomena Pacaran=


Setelah pemaparan kami di atas, jika kita meninjau fenomena pacaran saat ini pasti ada perbuatan-perbuatan yang dilarang di atas. Kita dapat melihat bahwa bentuk pacaran bisa mendekati zina. Semula diawali dengan pandangan mata terlebih dahulu. Lalu pandangan itu mengendap di hati. Kemudian timbul hasrat untuk jalan berdua. Lalu berani berdua-duan di tempat yang sepi. Setelah itu bersentuhan dengan pasangan. Lalu dilanjutkan dengan ciuman. Akhirnya, sebagai pembuktian cinta dibuktikan dengan berzina. –Naudzu billahi min dzalik-. Lalu pintu mana lagi paling lebar dan paling dekat dengan ruang perzinaan melebihi pintu pacaran?!


Mungkinkah ada pacaran Islami? Sungguh, pacaran yang dilakukan saat ini bahkan yang dilabeli dengan ’pacaran Islami’ tidak mungkin bisa terhindar dari larangan-larangan di atas. Renungkanlah hal ini!



# Mustahil Ada Pacaran Islami #


Salah seorang dai terkemuka pernah ditanya, ”Ngomong-ngomong, dulu bapak dengan ibu, maksudnya sebelum nikah, apa sempat berpacaran?” Dengan diplomatis, si dai menjawab,”Pacaran seperti apa dulu? Kami dulu juga berpacaran, tapi berpacaran secara Islami. Lho, gimana caranya? Kami juga sering berjalan-jalan ke tempat rekreasi, tapi tak pernah ngumpet berduaan. Kami juga gak pernah melakukan yang enggak-enggak, ciuman, pelukan, apalagi –wal ‘iyyadzubillah- berzina.


Nuansa berpikir seperti itu, tampaknya bukan hanya milik si dai. Banyak kalangan kaum muslimin yang masih berpandangan, bahwa pacaran itu sah-sah saja, asalkan tetap menjaga diri masing-masing. Ungkapan itu ibarat kalimat, “Mandi boleh, asal jangan basah.” Ungkapan yang hakikatnya tidak berwujud. Karena berpacaran itu sendiri, dalam makna apapun yang dipahami orang-orang sekarang ini, tidaklah dibenarkan dalam Islam. Kecuali kalau sekedar melakukan nazhor (melihat calon istri sebelum dinikahi, dengan didampingi mahramnya), itu dianggap sebagai pacaran. Atau setidaknya, diistilahkan demikian. Namun itu sungguh merupakan perancuan istilah. Istilah pacaran sudah kadong dipahami sebagai hubungan lebih intim antara sepasang kekasih, yang diaplikasikan dengan jalan bareng, jalan-jalan, saling berkirim surat, ber SMS ria, dan berbagai hal lain, yang jelas-jelas disisipi oleh banyak hal-hal haram, seperti pandangan haram, bayangan haram, dan banyak hal-hal lain yang bertentangan dengan syariat. Bila kemudian ada istilah pacaran yang Islami, sama halnya dengan memaksakan adanya istilah, meneggak minuman keras yang Islami. Mungkin, karena minuman keras itu di tenggal di dalam masjid. Atau zina yang Islami, judi yang Islami, dan sejenisnya. Kalaupun ada aktivitas tertentu yang halal, kemudian di labeli nama-nama perbuatan haram tersebut, jelas terlelu dipaksakan, dan sama sekali tidak bermanfaat.

(Diambil dari buku Sutra Asmara, Abu Umar Basyir)



# Pacaran Mempengaruhi Kecintaan pada Allah #


Ibnul Qayyim menjelaskan, ”Kalau orang yang sedang dilanda asmara itu disuruh memilih antara kesukaan pujaannya itu dengan kesukaan Allah, pasti ia akan memilih yang pertama. Ia pun lebih merindukan perjumpaan dengan kekasihnya itu ketimbang pertemuan dengan Allah Yang Maha Kuasa. Lebih dari itu, angan-angannya untuk selalu dekat dengan sang kekasih, lebih dari keinginannya untuk dekat dengan Allah”.



# Pacaran Terbaik adalah Setelah Nikah #


Islam yang sempurna telah mengatur hubungan dengan lawan jenis. Hubungan ini telah diatur dalam syariat suci yaitu pernikahan. Pernikahan yang benar dalam islam juga bukanlah yang diawali dengan pacaran, tapi dengan mengenal karakter calon pasangan tanpa melanggar syariat. Melalui pernikahan inilah akan dirasakan percintaan yang hakiki dan berbeda dengan pacaran yang cintanya hanya cinta bualan.


Dari Ibnu Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

« لَمْ نَرَ لِلْمُتَحَابَّيْنِ مِثْلَ النِّكَاحِ »

“Kami tidak pernah mengetahui solusi untuk dua orang yang saling mencintai semisal pernikahan.” (HR. Ibnu Majah no. 1920. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani)


Kalau belum mampu menikah, tahanlah diri dengan berpuasa. Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنِ اسْتَطَاعَ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ ، فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ

“Barangsiapa yang mampu untuk menikah, maka menikahlah. Karena itu lebih akan menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Barangsiapa yang belum mampu, maka berpuasalah karena puasa itu bagaikan kebiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)


Ibnul Qayyim berkata, ”Hubungan intim tanpa pernikahan adalah haram dan merusak cinta, malah cinta di antara keduanya akan berakhir dengan sikap saling membenci dan bermusuhan, karena bila keduanya telah merasakan kelezatan dan cita rasa cinta, tidak bisa tidak akan timbul keinginan lain yang belum diperolehnya.” Cinta sejati akan ditemui dalam pernikahan yang dilandasi oleh rasa cinta pada-Nya.


Mudah-mudahan Allah memudahkan kita semua untuk menjalankan perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya. Allahumma inna nas’aluka ’ilman nafi’a wa rizqon thoyyiban wa ’amalan mutaqobbbalan **


Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel http://rumaysho.com/

7 Mutiara Menuju Kebahagiaan Rumah Tangga ( nasehat perkawinan )


ومن أياته أن خلق لكم من أنفسكم أزواجا لتسكونوا إليها وجعل بينكم مودة ورحمة إن في ذالك لأيات لقوم يتفكرون. الروم / 21

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. [QS. Ar-Rum ayat 21]

Hadis Nabi saw :

فال رسول الله صلى عليه وسلم : النكاح سنتى فمن رغب عن سنتي فليس منى

Pernikahan adalah perbuatan yang selalu diinginkan dan didambakan oleh setiap manusia yang hidup. Pernikahan itu adalah sunnah Nabi [النكاح سنتى], maka barang siapa yang tidak melaksanakan nikah, kata Nabi saw bukan golongannya [فمن رغب عن سنتئ فليس منى]. Pernikahan harus didasarkan pada agama, ibadah, dan menjalankan sunnah Nabi saw, dan bukan didasarkan pada nafsu belaka atau didasarkan tujuan lain yang tidak sesuai dengan ajaran agama Islam.

Pernikahan harus atas dasar suka sama suka, saling cinta, bukan dasar paksaan, dan bersandar pada ibadah kepada Allah. Sebab, dalam menjalani kehidupan bahtera rumah tangga, bagaikan orang mengarungi samudra luas dan penuh dengan gelombang, pada siang, malam, panas dan hujan bahkan badai dan genlombang harus dilalui. Mungkin saja, cuaca tidak bersahabat yang tidak pernah kita prediksi yang dapat saja datang secara tiba-tiba.Kita harus selalu siap untuk menghadapi dan selalu mengantisipasi setiap perubahan. Maka, apabila seseorang dalan menjalankan rumah tangga tidak memiliki dasar, pedoman, mesti akan terombang-ambing dalam perjalanan rumah tangganya.

Dalam berumah tangga, kita akan melalui perjalanan panjang dan sangat melelahkan dengan tujuan untuk mecapai “pantai kebahagiaan” yang sakinah dan diridhoi Allah..
Untuk mencapai “pantai kebahagian” tersebut, tentu saja kita harus:
[1] mempersiapkan diri dan mental, baik suami maupun istri,
[2] mempersiapkan berbagai keperluan dan bekal agar perjalanan kita terasa aman, nyaman, dan lancer, sebab apabila datang badai dan gelombang, kita akan siap menghadapinya dengan sikap tenang, tidak grogi, tidak takut dan tidak gentar sekalipun dahsatnya badai dan gelombang tersebut, sebab kita memiliki dasar [agama] dan pedoman [al-Qur’an dan Hadis].

Untuk mengarungi perjalanan [rumah tangga] itu dengan baik dan lancar, kita perlu mempersiapkan :
Pertama, kapal [rumah tangga] yang kokoh agar tidak macet dalam perjalanan.
Kedua, mesin yang betul-betul baik.
Ketiga, bahan bakar yang cukup dan memadai.
Keempat, membawa peta dan kompas sebagai pedoman perjalanan agar tidak sesat dalam perjalanan. Kelima, membawa peralatan yang memadai untuk mengantipasi macet.
Keenam, nahkoda yang pandai, lihai, dan memiliki strategi untuk mengemudi kapal.
Ketujuh, membawa bekal yang cukup dalam perjalanan.


Pertama :

Rumah Tangga [الاسرة ], bagaikan kapal [bahtera] yang kokoh. Rumah tangga, harus dibangun atas dasar taqwa, cinta, suka sama suka dan didukung dengan kedua belah pihak keluarga yang merestui serta mengharapkan ridho Ilahi. Selain itu, harus mempunyai niat dan kebulatan tekad untuk berumah tangga atas dasar lillahita’ala, dengan ibadah [salat] – Insya Allah, rumah tangga akan kokoh. Berumah tangga itu sendiri juga sebagai perilaku ibadah kepada Allah dan menjalankan sunnah Nabi saw [النكاح سنتى ].


Kedua :

Hati [ القلب], sebagai mesin yang bagus. Artinya, suami istri harus punya tujuan yang sama. Berumah tangga bukan untuk hanya sekedar melepas nafsu birahi, melainkan harus memiliki tujuan untuk mencetak generasi-generasi bangsa yang baik, kuat dan tanggung serta bertaqwa kepada Allah swt. Tanpa punya perasaan sehati, mungkin saja tujuan tidak akan tercapai. Maka dengan dasar ini, suami istri harus tahun kepribadian masing-masing dan inilah yang dinamakan ta’aruf [تعارف ].


Ketiga :

Akhlak [الاخلاق], sebaga bahan bakar. Dalam berumah tangga, apabila hanya berbekal atau memiliki cinta dan perasaan saja, tanpa dibekali dan atau dibarengi dengan akhlak mulia, jangan berandai-andai untuk dapat menguasai medan perjuangan yang berat itu. Akhlak adalah pondasi utama dalam beragama, kata Abul Atahiyah : ليست الدنيا الا بدين وليس الدين الابمكارم الاخلاق , artinya ”tidaklah dikatakan dunia kecuali dengan agama dan tidaklah dikatakan agama kecuali dengan akhlak mulia”. Maka, kita harus membangun rumah tangga dengan akhlak yang muliah. Akhlak sebagi pondasi utama untuk membangun rumah tangga. Prinsip akhlak disini adalah saling menghargai, menghormati, menyayangi, penuh dengan senyum. Sifat ini dinamakan tabassum [التبسم] dan sifat ini sangat dianjurkan Rasulullah saw.


Keempat :

القران الكريم والحديث sebagai peta dan kompas. Sebagai pedoman agar tidak tersesat dalam perjalanan dan ketika menemukan kesulitan, keresahaan, bacalah al-Qur’an dan kemudian kembalikan atau pasrah kepada Allah. Suami dan istri harus saling mengingatkan dan ta’awun atau kerjasama dalam menghadapi kesulitan hidup. Semua persoalan harus diselesaikan berdua dan selalu pasrah kepada Allah. Kata Baihaki, ان ذ كرالله شفاء , ingat pada Allah sebagai obat, dan وان ذكرالناس داء ingat pada manusia penyakit. [البيهقي ].



Kelima :

Nasehat [النصيحة], sebagai peralatan yang dibawa dalam perjlanan. Agama adalah nasehat [الدين النصيحة], maka kembali kepada ajaran agama Islam dalam menghadapi setiap persoalan, sehingga mudah terselesaikan. Maka dalam kehidupan rumah tangga, sepenuh apapun perasaan cinta suami pada istri atau sebaliknya, kesalah fahaman dan perselisihan [baik kecil maupun besar] mesti ada. Suami dan istri harus saling mengingatkan, saling menasihati dengan sabar antara keduanya untuk mencapai kebaikan وتواصو بالحق وتواصو بالصبر ( dan bernasehatlah dalam kebaikan dan kesabaran ) atau mungkin kita butuh nasehat-nasehat orang tua, ustadz, tokoh masyarakat, atau orang yang lebih berpengalaman, sebagai obat pencerahan untuk mencapai tujuan hidup yang mungkin salah dilakukan oleh kita. Maka, setelah mendapatkan nasehat-nasehat akan tumbuh saling percaya, saling memaafkan, dan menghargai kesalah fahaman itu. Sikap ini dinamakan takarrum [التكارم] atau saling menghargai.


Keenam :

Suami [الزوج ], sebagai nahkoda yang lihai. Suami harus pandai memainkan peranan, dapat menjadi panutan, cerdas melihat situasi, agar penumpang atau orang yang bersamanya merasa aman, tenang dan nyaman. Seorang suami harus memiliki ikhtiar dalam menjalankan perannya, sehingga seburuk apapun situasi dan kondisi yang dihadapinya, harus tenang, sabar, dan berserah diri pada Allah [يبتغون فضلا من الله ورضوانا ], “mereka mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya”. Maka perumpamaan seorang suami, seperti seorang nahkoda yang menghadapi cuaca yang buruk. Dia harus tetap tenang untuk mencapai tujuan, maka secara perlahan-lahan tapi pasti dia akan lalui badai tersebut dan seluruh penumpang pasti akan menghormati dan menghargainya. Penghargaan itu akan datang dengan sendirinya, mungkin saja berupa ucapan terima kasih, mungkin ciuman, pelukan, bahkan dengan kepasrahan diri penumpang dan penumpang tersebut tiada lain adalah istri. Sikap ini dinamakan tala’ub [التلاعب ].


Ketujuh :

Kepasrahan [التسليم], sebagai bekal yang cukup. Dalam menjalani kehidupan rumah tangga, kita harus banyak berusaha [bekerja] dan berdo’a (وابتغ فيما اتاك الله الدار الأخرة ولا تنس نصيبك من الدونيا وأحسن كما احسن الله إليك) " . “ carilah anugrah Allah untuk kehidupan akhirat, tetapi jangan lupa nasib(bagian)mu untuk kehidupan dunia dan berbuat baiklah sebagaimana Allah berbuat baik padamu”. Karena usaha atau bekerja tanpa do’a akan sia-sia, dan begitu juga sebaliknya do’a tanpa usaha atau bekerja adalah mimpi atau angan-angan belaka. Suami harus berusaha mencari nafkah untuk menghidupi istrinya. Suami dan istri harus dapat bekerja sama untuk melindungi perjalanan yang panjang, seorang suami tahu kebutuhan istri dan begitu sebaliknya istri tahu kebutuhan suami. Dengan demikian, akan terbangun sikap saling menghargai dan toleransi dalam berumah tangga. Sifat ini dinamakan tasamuh [التسامح].



Ketujuh mutiara ini, dinamakan “Resep agar tetap bahagia”, bertujuan yang jelas, pasti, dan sampai dengan selamat di atas Ridho Ilahi Robbi, dengan mengucapkan :

بارك الله لكماوبارك عليكماوجمع بينكما فى خير

Semoga Allah memberkahi pernikahan ananda berdua”, amien yaa robbal ‘alamiieen.


Semoga kita bisa mengambil hikmah dari catatan ini


Tulisan ini, konsep awalnya ditulis oleh KH. Muhadi Zainuddin, Lc., M.Ag, kemudian ditambah dan diperluas oleh Hujair AH. Sanaky.

surat cinta buat Tuhan


::. ya Allah yang maha pemberi keamanan, lindungilah ia dengan perlindunganMu yang memberi kenyamanan.
Ya Allah, selimutilah ia dengan keridhoaan dan kasih sayangMu yang memberikan kesejukan dalam kalbu...

Anak dan Pohon Apel


Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan anak lelaki
yang senangf bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari.
Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya,
tidur-tiduran di keteduhan rindang daun-daunnya. Anak lelaki itu
sangat mencintai pohon apel itu. Demikian pula pohon apel sangat
mencintai anak kecil itu. Waktu terus berlalu. Anak lelaki itu kini
telah tumbuh besar dan tidak lagi bermain-main dengan pohon apel itu
setiap harinya.
Suatu hari ia mendatangi pohon apel. Wajahnya tampak sedih. "Ayo ke
sini bermain-main lagi denganku," pinta pohon apel itu. "Aku bukan
anak kecil yang bermain-main dengan pohon lagi," jawab anak lelaki
itu."Aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk
membelinya."

Pohon apel itu menyahut, "Duh, maaf aku pun tak punya uang... tetapi
kau boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau bisa
mendapatkan uang untuk membeli mainan kegemaranmu. " Anak lelaki itu
sangat senang. Ia lalu memetik semua buah apel yang ada di pohon dan
pergi dengan penuh suka cita. Namun, setelah itu anak lelaki tak
pernah datang lagi. Pohon apel itu kembali sedih.

Suatu hari anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel sangat senang
melihatnya datang. "Ayo bermain-main denganku lagi," kata pohon
apel. "Aku tak punya waktu," jawab anak lelaki itu. "Aku harus
bekerja untuk keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempat
tinggal. Maukah kau menolongku?" Duh, maaf aku pun tak memiliki
rumah.

Tapi kau boleh menebang semua dahan rantingku untuk membangun
rumahmu," kata pohon apel. Kemudian anak lelaki itu menebang semua
dahan dan ranting pohon apel itu dan pergi dengan gembira.Pohon apel
itu juga merasa bahagia melihat anak lelaki itu senang, tapi anak
lelaki itu tak pernah kembali lagi. Pohon apel itu merasa kesepian
dan sedih.

Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel
merasa sangat bersuka cita menyambutnya. "Ayo bermain-main lagi
denganku," kata pohon apel."Aku sedih," kata anak lelaki itu."Aku
sudah tua dan ingin hidup tenang. Aku ingin pergi berlibur dan
berlayar. Maukah kau memberi aku sebuah kapal untuk pesiar?"

"Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong batang
tubuhku dan menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau.
Pergilah berlayar dan bersenang-senanglah ."

Kemudian, anak lelaki itu memotong batang pohon apel itu dan membuat
kapal yang diidamkannya. Ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi
datang menemui pohon apel itu.

Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah bertahun-tahun
kemudian. "Maaf anakku," kata pohon apel itu. "Aku sudah tak
memiliki buah apel lagi untukmu." "Tak apa. Aku pun sudah tak
memiliki gigi untuk mengigit buah apelmu," jawab anak lelaki itu.

"Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa kau panjat," kata
pohon apel."Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu," jawab anak
lelaki itu."Aku benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa aku
berikan padamu. Yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan
sekarat ini," kata pohon apel itu sambil menitikkan air mata.

"Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang," kata anak lelaki.
"Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah
setelah sekian lama meninggalkanmu. " "Oooh, bagus sekali. Tahukah
kau, akar-akar pohon tua adalah tempat terbaik untuk berbaring dan
beristirahat. Mari, marilah berbaring di pelukan akar-akarku dan
beristirahatlah dengan tenang." Anak lelaki itu berbaring di pelukan
akar-akar pohon.

Pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air
matanya.


Pohon apel itu adalah orang tua kita.
Ketika kita muda, kita senang bermain-main dengan ayah dan ibu kita.
Ketika kita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka, dan hanya datang
ketika kita memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan. Tak peduli apa
pun, orang tua kita akan selalu ada di sana untuk memberikan apa
yang bisa mereka berikan untuk membuat kita bahagia. Anda mungkin
berpikir bahwa anak lelaki itu telah bertindak sangat kasar pada
pohon itu, tetapi begitulah cara kita memperlakukan orang tua kita.

Sebarkan cerita ini untuk mencerahkan lebih banyak rekan.

Dan, yang terpenting: cintailah orang tua kita.
Sampaikan pada orang tua kita sekarang, betapa kita mencintainya;
dan berterima kasih atas seluruh hidup yang telah dan akan
diberikannya pada kita.

Sabtu, 22 Januari 2011

Indahnya Sabar Dalam Musibah


Setiap manusia pasti tidak ada yang menginginkan suatu  musibah menimpa kepada dirinya, namun apabila musibah itu menimpa kepada kita, sebagai seorang muslim, kita harus menerima dengan penuh ikhlas dan lapang dada, tanpa harus mengeluhkan dari musibah yang menimpa kepada kita.

"apa yag tidak menyebabkan kita tidak bertawakkal kepada Allah, sedangkan ia telaah menunjukan jalan-jalan kita, dan hendaklah kita sabar atas segala yang menimpa kita. dan atas Allah lah tempat bertawakalnya orang-orang bertawakkal."  ( Q.S. Ibrahim :12)

Kita berusaha untuk keluar dan selalu optimis untuk mencari jalan keluar dari musibah yang menimpa kepada kita. dan selebihnya kita serahkan segalanya kepada Sang Maha Kuasa Allah SWT.

Tawakkal atau dengan kata lainya menyerahkan segala urusan kepadaNya, adalah salah satu sikap yang harus dimiliki oleh setiap muslim yang taat dan patuh seutuhanya  kepadaNya.

Gambaran tawakkal yang paling rendah adalah seperti seorang  yang mewakilkan perkara atau masalah kepada orang lain, dan pastinya orang yang menyerahkan perkara itu kepada orang lain, pasti dia sangat berharap agar masalah atau perkara itu selesai tanpa melahirkan masalah-masalah yang baru atau masalah-masalah yang lain.

Gambaran tawakal yang lain adalah, seorang bayi yang menggantungkan seluruh hidupnya kepada sang bundanya tercinta. dan harapan sang bayi tersebut adalah bagaimana ia bisa hidup dan mendapatkan kasih sayang dengan baik hingga sampai menempuh jalan hidupnya ke jenjang remaja, dewasa, dan kemudian hingga bisa lagi menolong orang lain dalam meneruskan kehidupannya.

Musibah atau cobaan yang menimpa kepada seorang muslim, menimpa kepada kita, bila tidak kita sikapi, atau menerima dengan ikhlas dan lapang dada maka kita tidak akan pernah merasa tenang dan tenteram dalam kehidupan kita.

Dan yang paling terpenting dalam ketawakkalan seorang hamba adalah kesabarannya dalam menghadapi segala musibah ataupun cobaan yang mungkin menghiasi kehidupan. Hal itu bisa terjadi dari orang lain atau bisa timbul dari dirinya sendiri. Kesabaran itulah yang akan membimbing seseorang untuk selalu menyempurnakan ketawakkalannya kepada Allah swt.

Jika Allah memberikan pertolongan, maka tak ada yang
sanggup mengalahkan kita. Maka gantungkanlah harapan kita sepenuhnya untuk Allah. Wallohu A'lam.

~'Zifan Afif"~
dimeja kantorku SDIT IU  Bogor, 21Januari

‍saya pilih selamat dulu baru kemudian kegembiraan meraih sarjana..


saya ngerti menikah itu bukan main-main. menikah adalah hal besar yang memerlukan waktu memutuskan tidak dalam bilangan beberapa hari. ada banyak bekal yang harus dipersiapkan untuk menjalaninya. tidak cukup modal Insya Alloh saja. jika menikah asal-asalan, bukannya 'selamat' yang dapatkan, malah hanya menjadi anganan dan isapan jempol belaka.

memang dari sebelumnya saya tidak pernah merespon secara terang-terangan dari tawaran asatidz  dan begitupula suasana teman-teman yang selalu mengompori dan menyemangati saya untuk menerima ajakan akhwat untuk menikah dengannya. itu bukan berarti tidak sedikit mengusik ketenangan hati saya, namun justru sebaliknya, hati ini makin bertambah gelisah dan makin kuat rasanya untuk menikah, sehingga saya hanya bisa istihoroh, memohon bimbingan dari Sang Maha Pemberi Petunjuk. dan ahirnya saya pun memberikan keputusan, yaitu menerima tawaran itu untuk menikah.

saya hanya menginginkan ketenangan hati, ketenangan jiwa dalam beramal dan beribadah kepadaNya, baru kemudian saya akan memikirkan yang selanjutnya, yaitu menyelesaikan kuliyah saya yang tinggal menyusun skripsi.

Saya hanya memiliki satu keyakinan setelah mengambil keputusan ini, yaitu jika kita beramal dan berjuang untuk menjunjung tinggi kalimatulloh dan berjuang untuk menunaikan sunnah Rosululloh, maka kita pun akan diberikan kemudahan dalam setiap urusan.

Setiap ada pertanyaa-petanyaan dari teman-teman mengenai keputusan ini, saya hanya mengatakan.

Teman...
"antum tau kan, kita sangat menjaga kesucian jiwa kita agar tidak terkotori dengan butiran-butiran kemaksiatan, meskipun yang hanya dari kelalaian mata kita yang kadang tidak sengaja melihat wanita cantik lagi seksi lewat didepan kita, sehingga selalu terbayang dalam hati, bisakah saya hidup bersamanya, atau bisakah saya jalan bergandengan tangan dengannya???"

Dan saya pikir, mungkin jika saya sudah menikah saya tidak perlu pusing memikirkan hal itu, toh itu kan ada dirumah, ada pada diri istri kita,heheee..

Jadi tujuan saya menikah itu, untuk menjaga hati dan jiwa agar tetap suci, terhindar dari hal-hal yang diharamkan.

Bukankah Rosululloh SAW sendiri bersabda dalam sebuah hadits bahwa satu dari tiga golongan yang berhak ditolong  Alloh selain orang yang berjihad dijalan Alloh, budak yang menebus dirinya dari tuannya, adalah pemuda yang menikah karena mau menjauhkan dirinya dari hal yang haram.

Alloh juga telah berfirman:
"Dialah Yang telah menjadikan kamu dari diri yang satu, kemudian menjadikan daripadanya istri, agar ia merasa tentram dengannya."  (QS. 7:189)

Dari ayat dan hadits itulah jelas disebutkan bahwa tujuan menikah adalah untuk mendapatkan ketenangan dan ketentraman hati dan terpelihahanya diri dari perbuatan maksiat.
Wallahu a'lam...

~'Zifan Afif'~
Suasana dalam kebimbangan hati...

Mental Layang-Layang


Lihatlah layang layang, setiap harinya dimainkan oleh anak-anak manapun baik itu anak-anak perkampungan atau perkotaan.

Mereka sangat gembira dan ceria, seakan lepasss tak memiliki beban pikiran. yang ada dalam benak mereka hanyalah, bagaimana layang-layang mereka melesat terbang lebih tinggi jauh di angkasa.

Coba kita sejenak renungkan, apasih yang membuat anak-anak iu suka dan senang bermain layang-layang???

Ternyata dibalik permainan yang sangat mengasyikan itu ada banyak hikmahnya. Diantaranya, ketika layang-layang itu mulai terbang dari kerendahan, iapun akan sangat susah untuk bermain-main diudara. Tetapi bila ia telah terbang tinggi jauh di angkasa, ia akan dengan sangat mudah dan leluasanya bermain, memutar kekana kekiri, katas dan kebawah. tidak ada lagi yang menghalanginya untuk bergerak sesukanya.

Namun ketika ia masih rendah terbangnya, jangankan ia bermain dengan leluasa, mempertahankan untuk tetap terbang itupun sanngat sulit. namun ketika ia mendapatkan banyak angin, banyak tantangan untuk terbang ke yang lebih tinggi, maka ia akan tetap naik dan terus naik keatas hingga ia dapat terbang dengan tenang tanpa halangan dan rintangan.

Begitu pun dengan kita, ketika kita baru memulai suatu rencana yang baru dilaksanakan dan kita menginginkan renana kita itu berhasil, maka jangan heran, langkah pertama kita memulainya, kita akan mendapatkan berbagai cobaan dan rintangan.

Kalau kita tetap bersabar dan terus berjuang tanpa mengenal lelah dan putus asa, maka kita akan mendapatkan keberhasilan, dan kesuksesan yang sempurna.

Kita bisa bermain-main dan bergerak sesuka kita tanpa halangan dan rintangan.

Mungkin hanya satu tantangan yang kan kita dapatkan yaitu, lepas kendali atau lalai dengan kehidupan kita yang serba enak dan mengasyikan.

Peganglah erat-erat tali layang-layang kita agar tetap terjaga, tetap terkendali, sehingga tidak terputus atau lepas dari tangan kita.

Artinya, tetaplah kita berpegang teguh dengan tali allah, mengikuti dan selalu taat dengan tuntunan yang diajarkan olah kekasih kita Muhammad SAW. agar kita tidak jatuh dalam kesengsaraan baik didunia maupun di akherat.
wallohu a'lam bissowab.

~'Zifan Afif'~
Coretan sejenak di pelataran sawah yang indah, bogor 19 januari

CINTA ATAU JUSTRU BENCI ??? --------


mengapa ku sakit saat kau mencoba tuk tersenyum kepada yang lain

mengapa berdetak kencang jantung hatiku saat kau duduk disampingku

mengapa ku marah saat kau mencoba tuk menyentuhku

mengapa ku menghindar saat kau mendekatiku

mengapa ku merindukanmu saat kau jauh dariku

mengapa ku marah saat kau bertingkah memperhatikanku di depan semua orang

bercampur antara benci dan rindu saat ku mengingat dan melihatmu

apa yang salah

apa yang berbeda

aku tak mengerti mengapa ini terjadi

aku tak tahu

mungkinkah ini pertanda cinta, atau justru benci yang membara???

jika cinta, mengapa ku kadang tidak menyukai tingkahnya

jika benci, mengapa ku merindunya

hati...
tak ada yang tau apa sebenarnya yang ia mau

aku...
hanya ingin yang halal tuk dikenang dan dirindu setiap saat, setiap waktu..

~'Zifan Afif'~

TUH AYAM APA BEBEK???


Sepasang pengantin baru tengah berjalan
bergandengan tangan di sebuah Taman pada suatu
malam musim panas yang indah, seusai makan malam.
Mereka sedang menikmati kebersamaan yang menakjubkan
tatkala mereka Mendengar suara di kejauhan: “Kuek! Kuek!”

“Dengar,” kata si istri, “Itu pasti suara ayam.”

“Bukan, bukan. Itu suara bebek,” kata si suami.

“Nggak, aku yakin itu ayam,” si istri bersikeras.
“Mustahil. Suara ayam itu ‘kukuruyuuuk!’, bebek itu ‘kuek! Kuek!’

Itu bebek, Sayang,” kata si suami dengan disertai gejala-gejala
awal Kejengkelan.

“Kuek! Kuek!” terdengar lagi.
“Nah, tuh! Itu suara bebek,” kata si suami.
“Bukan, Sayang. Itu ayam. Aku yakin betul,” tandas si istri, sembari
Menghentakkan kaki.

“Dengar ya! Itu a... DA... Lah... Be... Bek, B-E-B-E-K. Bebek!
Mengerti?” si suami berkata dengan gusar. “Tapi itu ayam,” masih
saja si istri bersikeras.
“Itu jelas-jelas bue... Bek, kamu... Kamu....”
Terdengar lagi suara, “Kuek! Kuek!” sebelum si suami
mengatakan sesuatu Yang sebaiknya tak dikatakannya. Si istri
sudah hampir menangis, “Tapi itu ayam....”

Si suami melihat air Mata yang mengambang di pelupuk Mata
istrinya, Dan Akhirnya.... Wajahnya melembut Dan katanya
dengan mesra, “Maafkan aku, Sayang. Kurasa kamu benar. Itu
memang suara ayam kok.”

“Terima kasih, Sayang,” kata si istri sambil menggenggam
tangan Suaminya.
“Kuek! Kuek!” terdengar lagi suara di hutan, mengiringi mereka
berjalan Bersama dalam cinta.
…………..
Maksud dari cerita bahwa si suami akhirnya sadar adalah: siapa
sih yang Peduli itu ayam atau bebek? Yang lebih penting adalah
keharmonisan Mereka, yang membuat mereka dapat
menikmati kebersamaan pada malam yang Indah itu.

Berapa banyak pernikahan yang hancur hanya gara-gara
persoalan sepele?
Berapa banyak perceraian terjadi karena hal-hal “ayam atau
bebek”?

Ketika Kita memahami cerita tersebut, Kita akan ingat apa yang
menjadi Prioritas Kita. Pernikahan jauh lebih penting ketimbang
mencari siapa yang benar tentang apakah itu ayam atau bebek.
Lagi pula, betapa sering Kita merasa yakin, amat sangat mantap,
mutlak bahwa Kita benar, namun belakangan ternyata Kita salah?
Lho, siapa tahu? Mungkin saja itu adalah ayam yang direkayasa
genetik sehingga bersuara seperti bebek!
..............
============================================
Sumber artikel, dari buku:
Sudarmono, Dr.(2010). Mutiara Kalbu Sebening Embun Pagi, 1001 Kisah Sumber Inspirasi. Yogyakarta: Idea Press. Volume 2. Hal. 387-388. ISBN 978-6028-686-938.