"Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak 186*) dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)." (QS. Ali Imran : 14)
186*). Yang dimaksud dengan binatang ternak di sini ialah binatang-binatang yang termasuk jenis unta, lembu, kambing dan biri-biri.
Siapakah yang tak suka dengan hal tersebut? Kita sangat menginginkan pasangan hidup, lalu menginginkan kehadiran sang buah hati. Tak dapat dipungkiri, ingin punya harta yang banyak. Ingin memiliki kendaraan terbaik. Banyak sekali keinginan-keinginan yang lain. Itu adalah hal yang wajar dan lumrah, dan Allah memberikan penekan tentang hal tersebut di penghujung ayat tersebut "... Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)."
Kebahagian hidup di dunia menjadi bagian yang banyak diinginkan manusia, Allah pun mengingatkan.... Jangan terlena. Ada kebahagiaan yang hakiki yang harus diraih....
Ingat... itu hanya kesenangan sementara....
Jangan sampai hal tersebut ... akan menghilangkan kebahagiaan yang sesungguhnya.
Allah pun mengingatkan.....
"Katakanlah: "jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya." Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik." (QS. At Taubah : 24)
Jangan sampai Allah dikesampingkan, ada tugas pokok yang melekat dalam diri kita,
"Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. " (QS. Adz Dzaariyaat : 56)
Jauh-jauh hari sebelum kita lahir kita terikat dengan perjanjian kita dengan Allah
"Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi." (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)", " (QS. Al A'raaf : 172)
Saatnya kita menata ulang niat kita, jangan sampai niat kita tersimpangkan oleh kepentingan dunia yang hanya sementara
"Amirul mukminin, Umar bin khathab radhiyallahu anhu, ia berkata : “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda: “Segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa yang hijrahnya itu Karena kesenangan dunia atau karena seorang wanita yang akan dikawininya, maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya”.
Diriwayatkan oleh dua orang ahli hadits yaitu Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Mughirah bin Bardizbah Al Bukhari (orang Bukhara) dan Abul Husain Muslim bin Al Hajjaj bin Muslim Al Qusyairi An Naisaburi di dalam kedua kitabnya yang paling shahih di antara semua kitab hadits.
Bolehlah kita menginginkan kesenangan terhadap wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kendaraan terbaik, berbagai aktivitas bisnis.
Tapi jangan sampai lupa untuk senantiasa mengingat Allah.
Selayaknya kita harus bisa mencapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Kita harus bisa mendapatkan pasangan yang akan menjadi pasangan hidup selamanya di dunia dan di akhirat.
Dari Abdullah bin ‘Amr radhiallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihiwassalam bersabda:
“Dunia ini adalah perhiasan/kesenangan dan sebaik-baik perhiasan/kesenangan dunia adalah wanita yang shalihah.” (HR. Muslim,Nasa’i, Ibnu Majah dan Ahmad)
Dalam lafazh lain:
“Sesungguhnya dunia ini adalah perhiasan dan tidak ada di antara perhiasan dunia yang lebih baik daripada wanita yang sholihah.” (HR. Ibnu Majah)
Dalam lafazh lain:
“Sesungguhnya dunia ini seluruhnya adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita yang sholihah.” (HR. Ahmad)
Ya kita harus bisa mendapatkan wanita yang sholihah!
Kita harus mendidik isteri kita menjadi isteri yang sholihah. Kita harus bisa menciptakan keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah dan juga mau berdakwah.
Menjadi rumah tangga kita seperti yang diunggkapkan Rasulullah "Baiti Jannati'
Menjadikan isteri kita lebih dari Bidadari. dan bidadari pun cemburu kepadanya.
Al Imam Ath Thabrani meriwayatkan sebuah hadits dari Ummu Salamah,
bahwa ia Radhiyallahu ‘Anha berkata, “Ya Rasulullah, jelaskanlah padaku firman Allah tentang bidadari-bidadari yang bermata jeli…”
Beliau menjawab. “Bidadari yang kulitnya bersih, matanya jeli dan lebar, rambutnya berkilau bak sayap burung Nasar."
Aku (Ummu Salamah) berkata lagi, “Jelaskanlah padaku Ya Rasulullah, tentang firmanNya: Laksana mutiara yang tersimpan baik (Al Waqi’aj 23) ..!”
Beliau menjawab, “Kebeningannya seperti kebeningan mutiara di kedalaman lautan, tak pernah tersentuh tangan manusia…”
Aku bertanya, “Ya Rasulullah, jelaskanlah kepadaku tentang firman Allah: Di dalam surga itu ada bidadari yang baik-baik lagi cantik-cantik (Ar Rahman 70) ..!”
Beliau menjawab, “Akhlaknya baik dan wajahnya cantik jelita.”
Aku bertanya lagi, “Jelaskanlah padaku firman Allah: Seakan-akan mereka adalah telur (burung unta) yang tersimpan baik.” (Ash Shaffat 49) ..!”
Beliau menjawab, “Kelembutannya seperti kelembutan kulit yang ada bagian dalam telur dan terlindung dari kuliat bagian luarnya, atau yang biasa disebut putih telur.”
Aku bertanya lagi, “Ya Rasulullah,jelaskan padaku firman Allah: Penuh cinta lagi sebaya umurnya (Al Waqi’ah 37) ..!
Beliau menjawab, “Mereka adalah wanita-wanita yang meninggal di dunia dalam usia lanjut dalam keadaan rabun dan beruban. Itulah yang dijadikan Allah tatkala mereka sudah tahu, lalu Allah menjadikan mereka sebagai wanita-wanita gadis, penuh cinta, bergairah, mengasihi, dan umurnya sebaya.”
Aku bertanya, “Ya Rasulullah, manakah yang lebih utama, wanita dunia ataukan bidadari yang bermata jeli?”
Beliau menjawab, “Wanita-wanita dunia lebih utama daripada bidadari-bidadari seperti kelebihan apa yang nampak dari apa yang tidak terlihat.”
Aku bertanya, “Mengapa wanita-wanita dunia lebih utama dari bidadari?”
Beliau menjawab, “Karena shalat mereka, puasa dan ibadah mereka kepada Allah. Allah meletakkan cahaya di wajah mereka, tubuh mereka adalah kain sutera, kulitnya putih bersih, pakaiannya berwarna hijau, perhiasannya kekuningan, sanggulnya mutiara, dan sisirnya terbuat dari emas. Mereka berkata, “Kami hidup abadi dan tidak mati. Kami lemah lembut dan tidak jahat sama sekali. Kami selalu mendampingi dan tidak beranjak sama sekali. Kami ridha dan tak pernah bersungut-sungut sama sekali. Berbahagialah orang yang memiliki kami dan kami memilikinya.”
Aku berkata, “Ya Rasulullah, salah seorang wanita di antara kami pernah menikah dengan dua, tiga, atau empat laki-laki lalu meninggal dunia. Dia masuk surga dan merekapun masuk surga. Siapakah di antara laki-laki itu yang akan menjadi suaminya di surga?”
Beliau menjawab, “Wahai Ummu Salamah, wanita itu disuruh memilih, lalu diapun memilih siapa di antara mereka yang paling baik akhlaqnya. Lalu dia berkata, “Rabbi, sesungguhnya lelaki inilah yang paling baik tatkala hidup bersamaku di dunia. Maka nikahkanlah aku dengannya…”
…Wahai Ummu Salamah, akhlaq yang baik itu akan pergi membawa dua kebaikan, dunia dan akhirat.” (HR At Thabrani)
Lalu seperti apakah agar bidadari cemburu padamu?
Menjadikan diri shalihah, agar bidadari cemburu padamu.
Allah berfirman:
"Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri 289*) ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka)290*). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya 291*), maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya 292*). Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. " (QS. An Nisaa' : 34)
289*). Maksudnya: Tidak berlaku curang serta memelihara rahasia dan harta suaminya.
290*). Maksudnya: Allah telah mewajibkan kepada suami untuk mempergauli isterinya dengan baik.
291*). Nusyuz: yaitu meninggalkan kewajiban bersuami isteri. Nusyuz dari pihak isteri seperti meninggalkan rumah tanpa izin suaminya.
292*). Maksudnya: untuk memberi peljaran kepada isteri yang dikhawatirkan pembangkangannya haruslah mula-mula diberi nasehat, bila nasehat tidak bermanfaat barulah dipisahkan dari tempat tidur mereka, bila tidak bermanfaat juga barulah dibolehkan memukul mereka dengan pukulan yang tidak meninggalkan bekas. Bila cara pertama telah ada manfaatnya janganlah dijalankan cara yang lain dan seterusnya.
Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata: “Nabi Shalallahu ‘alaihiwassalam ditanya:’Siapakah wanita yang paling baik?’ Beliau menjawab:
‘(Sebaik-baik wanita) adalah yang menyenangkan (suami)-nya jika ia melihatnya, mentaati (suami)-nya jika ia memerintahnya dan ia tidak menyelisihi (suami)-nya dalam hal yang dibenci suami pada dirinya dan harta suaminya.’” (HR. Ahmad, al Hakim, an Nasa’i dan ath Thobrani dan di Shohihkan oleh al Albani).
Jadi jangan sampai salah dalam memilih pasangan, pilihlah wanita yang shalihah.
Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dari Nabi Shalallahu ‘alaihiwassalam beliau bersabda:
“Wanita dinikahi karena empat hal: karena hartanya, karena kedudukannya, kecantikannya dan karena dien (agama)-nya; maka pilihlah yang memiliki dien maka engkau akan beruntung.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Bagaimana menjadi wanita Shalihah?
Apakah wanita shalihah itu orang yang berbuat baik, mau sholat, menurut kepada suami selama tidak bertentangan dengan perintah Allah sementara dirinya tidak mau memakai jilbab yang menutupi auratnya?
Indahnya Bidadari Surga
Indahnya Bidadari Surga , Jamal Abdurrahman ( Penulis ), Nabhani Idris ( Penj ), Abu Sumayyah Syahiidah (Peny) , Robbani Press (Telp. 87780250), Cet. Pertama, Jumadits-Tsani 1425 H/Agustus 2004 M, XI + 127 hlm.
Hanyalah seorang yang berpetualang menyusuri Bumi Allah yang luas ini... tuk menikmati.... mencari... dan menyebarkan cahaya ilmu Ilahi, dengan Berharap Ridho dan BerkahNya yang haqiqi....
Laman
أهلا وسهلا
Selamat datang di blog ini, silahkan dibuka-buka, di baca-baca, di share, taupun memberikan coment. dengan catatan selama tidak melanggar Undang-Undang Dunia dan Akherat.
Semoga bermanfaat...
Minggu, 12 Desember 2010
Sabtu, 04 Desember 2010
JANGAN KHAWATIR TULANG RUSUK TAKKAN TERTUKAR
" ana akan ta'aruf dengan ukhti beberapa tahun lagi, ketika
ukhti sudah lulus"
"untuk apa antum katakan itu sekarang akhi, jika belum siap
adalah jawabannya, lalu mengapa harus antum katakan rencana
tersebut pada saya?
Tak tahukah antum, kalimat itu menggoyahkan kekokohan iman
yang susah payah saya bangun."
Ketika antum katakan " ana ingin jaga hati ana untuk ta'aruf
dengan ukhti nanti"
" lantas, apakah dengan antum berkata seperti itu, lalu
perilaku antum yang sering menelpon saya itu tidak berarti
mengotori hati?. Antum memang sudah sharusnya menjaga hati,
hingga tiba saatnya nanti untuk antum berikan seutuhnya kepada
wanita yang berhak"
Ketika antum katakan:"hati-hati disana, jaga diri baik-baik"
"Bukannya saya tidak suka diperhatikan dan dijaga, tapi
cukuplah Alllah yang akan menjagaku...Bukankah Allah adalah
sebaik-baiknya Pelindung?"
Ketika antum katakan:" ana harap ukhti tidak ta'aruf dengan
orang lain sebelum ana"
" saya tidak bisa menjanjikan apapun, karena saya tidak tau
apa yang akan terjadi nanti..."
* SEbuah Ibroh...
( fenomena ikhwan wa akhwat yang MUNGKIN kita sendiri pernah
mengalaminya...) ^_^"
Wahai akhwat, jika datang kepadamu laki-laki baik-baik yang
melamarmu maka bisa jadi dialah mujahid yang di takdirkan
ALLAH untukmu.
Wahai ikhwan,jika gadis pujaanmu telah dikhitbah laki-laki
lain, maka ikhlaskanlah. Bisa jadi dia bukanlah bidadari yang
akan menemani perjuanganmu dalam berjihad fii sabilillah.
" Perempuan yang keji adalah untuk laki-laki yang keji pula
dan laki-laki yang keji adalah untuk perempuan-perempuan yang
keji sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki
yang baik dan laki-laki yang baik diperuntukkan bagi perempuan
yang baik.."(QS 24.26)
Begitulah janji ALLAH untuk kita...maka persiapkanlah diri
menjadi lebih baik untuk mendapatkan yang terbaik pilihan
ALLAH...Insya ALLAH...
Maka jika nantinya kita tidak berjodoh, mungkin saya tak cukup
baik untukmu, pasti ada wanita lain yang lebih baik untukmu..
Dan yakinlah, jika memang saya adalah pasangan dari tulang
rusukmu, maka tanpa antum minta untuk tidak ta'aruf dengan
orang lainpun, saya akan tetap menjadi pendampingmu....karena
saya yakin TULANG RUSUK TAKKAN TERTUKAR...Wallahu'alam
dari sebuah note: RKIL
Cinta adalah anugrah yang di berikan pada setiap insan...Akan
tampak indah bila dipupuk dengan keimanan... Cinta insan bukan
tujuan yang sebenarnya, tapi Cinta Insan adalah sarana yang
menjadi jembatan untuk meraih Cinya~NYA. ~:~ Cintailah Sang
Pemilik Cinta , maka kita akan di cintai oleh semua insan yang
mencintai~NYA...~:~
dikutip dari catatan Shåliha Zåhra Hilwatuljannah
ukhti sudah lulus"
"untuk apa antum katakan itu sekarang akhi, jika belum siap
adalah jawabannya, lalu mengapa harus antum katakan rencana
tersebut pada saya?
Tak tahukah antum, kalimat itu menggoyahkan kekokohan iman
yang susah payah saya bangun."
Ketika antum katakan " ana ingin jaga hati ana untuk ta'aruf
dengan ukhti nanti"
" lantas, apakah dengan antum berkata seperti itu, lalu
perilaku antum yang sering menelpon saya itu tidak berarti
mengotori hati?. Antum memang sudah sharusnya menjaga hati,
hingga tiba saatnya nanti untuk antum berikan seutuhnya kepada
wanita yang berhak"
Ketika antum katakan:"hati-hati disana, jaga diri baik-baik"
"Bukannya saya tidak suka diperhatikan dan dijaga, tapi
cukuplah Alllah yang akan menjagaku...Bukankah Allah adalah
sebaik-baiknya Pelindung?"
Ketika antum katakan:" ana harap ukhti tidak ta'aruf dengan
orang lain sebelum ana"
" saya tidak bisa menjanjikan apapun, karena saya tidak tau
apa yang akan terjadi nanti..."
* SEbuah Ibroh...
( fenomena ikhwan wa akhwat yang MUNGKIN kita sendiri pernah
mengalaminya...) ^_^"
Wahai akhwat, jika datang kepadamu laki-laki baik-baik yang
melamarmu maka bisa jadi dialah mujahid yang di takdirkan
ALLAH untukmu.
Wahai ikhwan,jika gadis pujaanmu telah dikhitbah laki-laki
lain, maka ikhlaskanlah. Bisa jadi dia bukanlah bidadari yang
akan menemani perjuanganmu dalam berjihad fii sabilillah.
" Perempuan yang keji adalah untuk laki-laki yang keji pula
dan laki-laki yang keji adalah untuk perempuan-perempuan yang
keji sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki
yang baik dan laki-laki yang baik diperuntukkan bagi perempuan
yang baik.."(QS 24.26)
Begitulah janji ALLAH untuk kita...maka persiapkanlah diri
menjadi lebih baik untuk mendapatkan yang terbaik pilihan
ALLAH...Insya ALLAH...
Maka jika nantinya kita tidak berjodoh, mungkin saya tak cukup
baik untukmu, pasti ada wanita lain yang lebih baik untukmu..
Dan yakinlah, jika memang saya adalah pasangan dari tulang
rusukmu, maka tanpa antum minta untuk tidak ta'aruf dengan
orang lainpun, saya akan tetap menjadi pendampingmu....karena
saya yakin TULANG RUSUK TAKKAN TERTUKAR...Wallahu'alam
dari sebuah note: RKIL
Cinta adalah anugrah yang di berikan pada setiap insan...Akan
tampak indah bila dipupuk dengan keimanan... Cinta insan bukan
tujuan yang sebenarnya, tapi Cinta Insan adalah sarana yang
menjadi jembatan untuk meraih Cinya~NYA. ~:~ Cintailah Sang
Pemilik Cinta , maka kita akan di cintai oleh semua insan yang
mencintai~NYA...~:~
dikutip dari catatan Shåliha Zåhra Hilwatuljannah
SURAT RIMA
Seperti biasa, aku bangun di pagi buta. Kendati ini hari libur untukku. Putri kecilku, Rima pun demikian. Ia sudah terbiasa bangun pagi bersamaku. Aku langsung ke meja kerjaku, membolak-balik buku, artikel dan menulis sesuatu. Tiba-tiba Rima bertanya: “Apa yang sedang mama tulis?”.
“Aku menulis surat kepada Allah!”, tanpa menoleh aku menjawab sekenanya.
“Bolehkah aku membacanya, mah??
“Tidak sayangku. Ini surat pribadi. Aku tidak ingin orang lain mengetahui isinya”.
Dengan wajah sedih Rima keluar dari ruang kerjaku. Namun hal itu sudah biasa terjadi. Aku telah berkali-kali memberi penolakan serupa…Dan peristiwa ini terjadi beberapa minggu lalu.
Suatu hari aku menengok kamar Rima. Aneh. Untuk kali pertama, Rima keberatan aku masuk ke dalam. Duh, mengapa ia merasa keberatan terhadapku? Kayaknya ia sedang menulis sesuatu.
“Apa yang sedang engkau tulis, sayang?”. Aku bertanya penuh keheranan. Hatiku penasaran, apa yang ditulis putriku yang saat itu baru berumur sembilan tahun? Apalagi, ia enggan jika aku membacanya.
“Aku sedang menulis surat untuk Allah seperti mama”. Jawabnya polos.
Rima lantas memotong pembicaan. Ia bertanya: “Mah, apakah yang kita tulis ini bisa menjadi kenyataan?”
“Tentu saja, sayang. Sungguh Allah Maha Mengetahui segala sesuatu…”. Namun Tetap saja Rima menolak jika aku membaca suratnya.
Galau aku beranjak dari kamarnya. Aku menemui suamiku, Rasyid untuk membacakan koran hari ini. Aku terus membaca. Namun hatiku masih kacau memikirkan putri kecilku. Rasyid dapat membaca hal itu. Bahkan ia menyangka, dirinya yang menjadi sebab kesedihanku. Ia berusaha menghiburku dan mengusulkan mencari seorang perawat, agar bisa lebih ringan mengurus dirinya. Oh Tuhan, aku tak pernah berpikir sampai ke sana. Segera kuraih kepada suamiku. Kupeluk dan kukecup keningnya. Kening yang selama ini mengucurkan peluh untuk diriku dan Rima… Ia mengira kesedihanku karena dirinya. Lalu aku jelaskan padanya sebab kegalauanku itu.
Sejak papanya sakit, aku yang mengantar Rima ke sekolah… Suatu hari, saat pulang, Rima kaget menyaksikan dokter berada di rumah kami. Ia segera berlari menengok ayahnya yang terserang stroke. Lalu duduk di sisinya, mengajaknya bercanda serta membisikkan kata-kata sayang padanya... Sebelum beranjak, sang dokter menuturkan padaku kondisi suamiku yang terus memburuk. Karena menganggap Rima masih kecil, tanpa perasaan aku sampaikan semua padanya. Bahwa dokter mengatakan, jantung ayahnya, tempat segala cinta dan kasih sayang, mulai lemah. Dan bahwasanya, ayah tidak mungkin dapat hidup lebih dari tiga minggu. Rima syok. Menangis keras sambil beseru: “Mengapa hal ini terjadi pada papa?, mengapa…??”.
“Berdoalah kepada Allah untuk kesembuhan papa sayang!. Engkau harus berani dan kuat. Jangan lupakan rahmat Allah. Sungguh Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Engkau kan anak sulung dan sudah besar…”.
Mendengar jawaban itu, hati Rima mulai tenang. Berangsur kesedihannya mereda. Keberanian mulai tumbuh dalam hatinya. Tegar ia berseru: “Papa tak akan meninggal…!”.
Seperti biasa, setiap pagi Rima mengecup pipi papanya. Tapi, pagi itu ada sesuatu yang lain. Saat ia mengecup papanya, ia memandangnya dengan pandangan kasih seraya berbisik: “Seandainya hari ini ayah bisa mengantarku ke sekolah seperti teman-teman yang lain…”.
Suamiku, Rasyid nampak sedih. Sekuat tenaga ia berusaha menyembunyikan kesedihan itu. “InsyaAllah, suatu hari nanti aku akan mengantarkan engkau ke sekolah, sayang”.
Setiba di rumah setelah mengantar Rima ke sekolahnya, hatiku terusik penasaran ingin mengetahui surat-surat Rima yang ditulis untuk Allah. Aku mencari di atas mejanya, namun hasilnya nihil. Setelah lama mengacak, tetap saja hasilnya nihil, “Duhai, dimanakan surat-surat itu??” Apakah ia menyobeknya setelah ditulis??
Tiba-tiba pandanganku terbentur pada sebuah kotak. “Barangkali berada di dalam sana”, batinku. Sebab Rima sangat menyukai kotak ini. Berulang kali ia memintanya dariku, hingga terpaksa kukosongkan isinya dan memberikan padanya. Aku pun meraihnya. “Duhai Rabb, kotak ini penuh dengan surat. Seluruhnya ditujukan untuk Allah”.
Diantaranya: “Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku, matikan anjing tetangga kami, Said, sebab ia membuatku takut”.
“Wahai Tuhanku, suburkan bunga-bunga di halaman kami, agar dapat kupetik setiap hari dan memberikan pada ibu guruku”. Dan masih banyak lagi surat-surat yang lainnya…
Aku merinding. Ya Allah, perasaan, seluruh permohonan Rima dalam surat-surat itu terkabulkan. Anjing tetangga kami telah mati beberapa minggu lalu. Kucing di rumah kami telah memiliki anak. Ahmad lulus dengan nilai tertinggi. Bunga-bunga di halaman telah besar, dan Rima memetiknya setiap hari untuk ibu gurunya…“Wahai Rabb, mengapa Rima tidak memohon untuk kesembuhan papanya?!!”, batinku.
Aku terus mencari. Barangkali ia pernah menulis dan memintanya. Sayangnya, upayaku terhenti oleh dering telepon. Pembantu kami segera menjawabnya.
“Nyonya, telepon dari sekolah…”.
“Sekolah..?!!, ada apa dengan Rima??, Apakah ia berbuat sesuatu??”. Teriak batinku.
Dari seberang sana, hati-hati sekali ia mengabarkan padaku, bahwa Rima terjatuh dari lantai empat. Saat itu Rima ingin ke rumah ibu gurunya yang sakit untuk memberikan sekuntum bunga...
Sungguh merupakan pukulah hebat bagi diriku dan suamiku. Lantaran syok luar biasa, tiba-tiba lidah suamiku tak dapat digerakkan lagi. Maka sejak hari itu juga ia tidak dapat lagi berkata-kata. Aku hanya menagisi hari-hari yang lewat tanpa Rima di sisiku. “Mengapa Rima harus mati?? Mengapa??, aku tidak dapat menguasai diriku lantaran kepergian anak tercintaku.
Bahkan, setiap hari aku terus membohongi diriku. Aku sengaja ke sekolah Rima seolah-olah aku mengantarnya. Aku juga mengerjakan segala sesuatu yang dicintai anakku itu. Duhai, setiap sudut-sudut rumah ini mengingatkanku padanya. Mengingatkanku pada tawa riangnya yang memenuhi rumah ini dengan kehidupan…
Tak terasa, peristiwa itu telah berlalu setahun. Sungguh, ia seakan hanya berjalan sehari saja.
Pagi itu, tepatnya hari jum’at, tiba-tiba pembantu kami datang tergesa-gesa. Nafasnya memburu. Ia mengabarkan, bahwa ia mendengar suara berasal dari kamar Rima… Ya Allah, apakah Rima kembali?? Ini adalah satu kegilaan…
“Engkau jangan terlalu banyak menghayal… Tidak ada yang pernah masuk di kamar itu sejak kepergian Rima”, sergahku.
Tapi suamiku tetap menyuruhku pergi dan melihat apa yang terjadi di dalam kamar itu.
Ragu aku memutar kunci pintu. Jantungku berdetak kencang. Saat pintu terkuak, aku tak sanggup menguasai diri…Aku jatuh duduk, dan hanya dapat menangis. Kenangan indah bersama Rima merasuki pikiranku. Saat kurebahkan tubuhku di atas tempat tidur Rima, kaki-kaki ranjang itu bergoyang dan mengelurkan suara deritan. Oh, aku ingat. Berkali-kali Rima mengabarkan padaku, bahwa kaki tempat tidurnya goyang dan mengeluarkan suara berderit. Dan aku lupa memanggil tukang untuk memperbaikinya… Namun sekarang, rasanya tak ada gunanya lagi. Aneh,, apa penyebab suara yang didengar pembantu kami itu…?
Ternyata, suara itu berasal dari kaligrafi Ayat Kursi yang jatuh. Ayat kursi berbingkai yang selalu di baca Rima setiap hari hingga ia menghapalnya… Saat aku mengangkat dan hendak menggantungkan kembali, pandangan mataku terantuk pada secarik kertas kecil yang tertempel di balik kaligrafi itu…
Gemetar aku meraih kertas tersebut. “Duhai Rabb, ia adalah salah satu dari surat Rima. Apa yang tertulis pada surat ini?? Mengapa Rima meletakkanya di balik kaligrafi Ayat Kursi ?? Sungguh, ia adalah surat Rima untuk Allah. Nanar aku membaca:
“Ya Rabb, Ya Rabb, biarlah Rima mati, agar papa tetap hidup…!”.
Dari sebuah kisah nyata berbahasa Arab.
Sumber: http://majdah.maktoob.com/vb/majdah59590/
Penerjemah: Rappung Samuddin
“Aku menulis surat kepada Allah!”, tanpa menoleh aku menjawab sekenanya.
“Bolehkah aku membacanya, mah??
“Tidak sayangku. Ini surat pribadi. Aku tidak ingin orang lain mengetahui isinya”.
Dengan wajah sedih Rima keluar dari ruang kerjaku. Namun hal itu sudah biasa terjadi. Aku telah berkali-kali memberi penolakan serupa…Dan peristiwa ini terjadi beberapa minggu lalu.
Suatu hari aku menengok kamar Rima. Aneh. Untuk kali pertama, Rima keberatan aku masuk ke dalam. Duh, mengapa ia merasa keberatan terhadapku? Kayaknya ia sedang menulis sesuatu.
“Apa yang sedang engkau tulis, sayang?”. Aku bertanya penuh keheranan. Hatiku penasaran, apa yang ditulis putriku yang saat itu baru berumur sembilan tahun? Apalagi, ia enggan jika aku membacanya.
“Aku sedang menulis surat untuk Allah seperti mama”. Jawabnya polos.
Rima lantas memotong pembicaan. Ia bertanya: “Mah, apakah yang kita tulis ini bisa menjadi kenyataan?”
“Tentu saja, sayang. Sungguh Allah Maha Mengetahui segala sesuatu…”. Namun Tetap saja Rima menolak jika aku membaca suratnya.
Galau aku beranjak dari kamarnya. Aku menemui suamiku, Rasyid untuk membacakan koran hari ini. Aku terus membaca. Namun hatiku masih kacau memikirkan putri kecilku. Rasyid dapat membaca hal itu. Bahkan ia menyangka, dirinya yang menjadi sebab kesedihanku. Ia berusaha menghiburku dan mengusulkan mencari seorang perawat, agar bisa lebih ringan mengurus dirinya. Oh Tuhan, aku tak pernah berpikir sampai ke sana. Segera kuraih kepada suamiku. Kupeluk dan kukecup keningnya. Kening yang selama ini mengucurkan peluh untuk diriku dan Rima… Ia mengira kesedihanku karena dirinya. Lalu aku jelaskan padanya sebab kegalauanku itu.
Sejak papanya sakit, aku yang mengantar Rima ke sekolah… Suatu hari, saat pulang, Rima kaget menyaksikan dokter berada di rumah kami. Ia segera berlari menengok ayahnya yang terserang stroke. Lalu duduk di sisinya, mengajaknya bercanda serta membisikkan kata-kata sayang padanya... Sebelum beranjak, sang dokter menuturkan padaku kondisi suamiku yang terus memburuk. Karena menganggap Rima masih kecil, tanpa perasaan aku sampaikan semua padanya. Bahwa dokter mengatakan, jantung ayahnya, tempat segala cinta dan kasih sayang, mulai lemah. Dan bahwasanya, ayah tidak mungkin dapat hidup lebih dari tiga minggu. Rima syok. Menangis keras sambil beseru: “Mengapa hal ini terjadi pada papa?, mengapa…??”.
“Berdoalah kepada Allah untuk kesembuhan papa sayang!. Engkau harus berani dan kuat. Jangan lupakan rahmat Allah. Sungguh Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Engkau kan anak sulung dan sudah besar…”.
Mendengar jawaban itu, hati Rima mulai tenang. Berangsur kesedihannya mereda. Keberanian mulai tumbuh dalam hatinya. Tegar ia berseru: “Papa tak akan meninggal…!”.
Seperti biasa, setiap pagi Rima mengecup pipi papanya. Tapi, pagi itu ada sesuatu yang lain. Saat ia mengecup papanya, ia memandangnya dengan pandangan kasih seraya berbisik: “Seandainya hari ini ayah bisa mengantarku ke sekolah seperti teman-teman yang lain…”.
Suamiku, Rasyid nampak sedih. Sekuat tenaga ia berusaha menyembunyikan kesedihan itu. “InsyaAllah, suatu hari nanti aku akan mengantarkan engkau ke sekolah, sayang”.
Setiba di rumah setelah mengantar Rima ke sekolahnya, hatiku terusik penasaran ingin mengetahui surat-surat Rima yang ditulis untuk Allah. Aku mencari di atas mejanya, namun hasilnya nihil. Setelah lama mengacak, tetap saja hasilnya nihil, “Duhai, dimanakan surat-surat itu??” Apakah ia menyobeknya setelah ditulis??
Tiba-tiba pandanganku terbentur pada sebuah kotak. “Barangkali berada di dalam sana”, batinku. Sebab Rima sangat menyukai kotak ini. Berulang kali ia memintanya dariku, hingga terpaksa kukosongkan isinya dan memberikan padanya. Aku pun meraihnya. “Duhai Rabb, kotak ini penuh dengan surat. Seluruhnya ditujukan untuk Allah”.
Diantaranya: “Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku, matikan anjing tetangga kami, Said, sebab ia membuatku takut”.
“Wahai Tuhanku, suburkan bunga-bunga di halaman kami, agar dapat kupetik setiap hari dan memberikan pada ibu guruku”. Dan masih banyak lagi surat-surat yang lainnya…
Aku merinding. Ya Allah, perasaan, seluruh permohonan Rima dalam surat-surat itu terkabulkan. Anjing tetangga kami telah mati beberapa minggu lalu. Kucing di rumah kami telah memiliki anak. Ahmad lulus dengan nilai tertinggi. Bunga-bunga di halaman telah besar, dan Rima memetiknya setiap hari untuk ibu gurunya…“Wahai Rabb, mengapa Rima tidak memohon untuk kesembuhan papanya?!!”, batinku.
Aku terus mencari. Barangkali ia pernah menulis dan memintanya. Sayangnya, upayaku terhenti oleh dering telepon. Pembantu kami segera menjawabnya.
“Nyonya, telepon dari sekolah…”.
“Sekolah..?!!, ada apa dengan Rima??, Apakah ia berbuat sesuatu??”. Teriak batinku.
Dari seberang sana, hati-hati sekali ia mengabarkan padaku, bahwa Rima terjatuh dari lantai empat. Saat itu Rima ingin ke rumah ibu gurunya yang sakit untuk memberikan sekuntum bunga...
Sungguh merupakan pukulah hebat bagi diriku dan suamiku. Lantaran syok luar biasa, tiba-tiba lidah suamiku tak dapat digerakkan lagi. Maka sejak hari itu juga ia tidak dapat lagi berkata-kata. Aku hanya menagisi hari-hari yang lewat tanpa Rima di sisiku. “Mengapa Rima harus mati?? Mengapa??, aku tidak dapat menguasai diriku lantaran kepergian anak tercintaku.
Bahkan, setiap hari aku terus membohongi diriku. Aku sengaja ke sekolah Rima seolah-olah aku mengantarnya. Aku juga mengerjakan segala sesuatu yang dicintai anakku itu. Duhai, setiap sudut-sudut rumah ini mengingatkanku padanya. Mengingatkanku pada tawa riangnya yang memenuhi rumah ini dengan kehidupan…
Tak terasa, peristiwa itu telah berlalu setahun. Sungguh, ia seakan hanya berjalan sehari saja.
Pagi itu, tepatnya hari jum’at, tiba-tiba pembantu kami datang tergesa-gesa. Nafasnya memburu. Ia mengabarkan, bahwa ia mendengar suara berasal dari kamar Rima… Ya Allah, apakah Rima kembali?? Ini adalah satu kegilaan…
“Engkau jangan terlalu banyak menghayal… Tidak ada yang pernah masuk di kamar itu sejak kepergian Rima”, sergahku.
Tapi suamiku tetap menyuruhku pergi dan melihat apa yang terjadi di dalam kamar itu.
Ragu aku memutar kunci pintu. Jantungku berdetak kencang. Saat pintu terkuak, aku tak sanggup menguasai diri…Aku jatuh duduk, dan hanya dapat menangis. Kenangan indah bersama Rima merasuki pikiranku. Saat kurebahkan tubuhku di atas tempat tidur Rima, kaki-kaki ranjang itu bergoyang dan mengelurkan suara deritan. Oh, aku ingat. Berkali-kali Rima mengabarkan padaku, bahwa kaki tempat tidurnya goyang dan mengeluarkan suara berderit. Dan aku lupa memanggil tukang untuk memperbaikinya… Namun sekarang, rasanya tak ada gunanya lagi. Aneh,, apa penyebab suara yang didengar pembantu kami itu…?
Ternyata, suara itu berasal dari kaligrafi Ayat Kursi yang jatuh. Ayat kursi berbingkai yang selalu di baca Rima setiap hari hingga ia menghapalnya… Saat aku mengangkat dan hendak menggantungkan kembali, pandangan mataku terantuk pada secarik kertas kecil yang tertempel di balik kaligrafi itu…
Gemetar aku meraih kertas tersebut. “Duhai Rabb, ia adalah salah satu dari surat Rima. Apa yang tertulis pada surat ini?? Mengapa Rima meletakkanya di balik kaligrafi Ayat Kursi ?? Sungguh, ia adalah surat Rima untuk Allah. Nanar aku membaca:
“Ya Rabb, Ya Rabb, biarlah Rima mati, agar papa tetap hidup…!”.
Dari sebuah kisah nyata berbahasa Arab.
Sumber: http://majdah.maktoob.com/vb/majdah59590/
Penerjemah: Rappung Samuddin
Langganan:
Postingan (Atom)

