Dia masih seperti yang dulu. Tidak megah. Tidak indah. Sederhana. Bersahaja. Bahkan kini nyaris tiang sudut tempat dulu kusandarkan punggungku setelah lelah berjalan mencari calon-calon generasi Sholahudin yang baru sudah lusuh dan kumuh dimakan waktu. Namun di sana banyak menyimpan makna dan kenangan yang tak tehingga.
Di tempat itulah dulu aku menjalani proses untuk mengenal arti kehidupan.
Di tempat itulah dulu aku dapat mengenal arti pengorbanan.
Di tempat itulah dulu aku dapat mengenal dakwah.
Di tempat itulah dulu aku dapat mengenal arti persahabatan yang indah.
Di tempat itulah dulu aku dapat mengenal penciptaku dan diriku.
Di tempat itulah dulu aku dapat menemukan agamaku dan jalan hidupku.
Ditempat itulah dulu aku dapat memegang prinsip-prinsip dan idealisme yang kini menyatu dan mengiringi denyut nadiku.
Duduk disaana di masjid kampus biru UMM Makassar, membawa anganku melayang mengarungi ruang tanpa halang. membentuk angan dan cita-cita yang jauh kedepan.
Kehidupan yang lebih baik, dengan membangun istana dan telaga yang sejuk di dalam SyurgaNya.
Zifan Afif
zifan86@ymail.com
03juni disela-sela ku mengajari anak arti kehidupan
Di tempat itulah dulu aku menjalani proses untuk mengenal arti kehidupan.
Di tempat itulah dulu aku dapat mengenal arti pengorbanan.
Di tempat itulah dulu aku dapat mengenal dakwah.
Di tempat itulah dulu aku dapat mengenal arti persahabatan yang indah.
Di tempat itulah dulu aku dapat mengenal penciptaku dan diriku.
Di tempat itulah dulu aku dapat menemukan agamaku dan jalan hidupku.
Ditempat itulah dulu aku dapat memegang prinsip-prinsip dan idealisme yang kini menyatu dan mengiringi denyut nadiku.
Duduk disaana di masjid kampus biru UMM Makassar, membawa anganku melayang mengarungi ruang tanpa halang. membentuk angan dan cita-cita yang jauh kedepan.
Kehidupan yang lebih baik, dengan membangun istana dan telaga yang sejuk di dalam SyurgaNya.
Zifan Afif
zifan86@ymail.com
03juni disela-sela ku mengajari anak arti kehidupan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar